Benteng Kastela Ternate. Foto : Lingkar.co.id
Lingkar.co.id—Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXI Maluku Utara telah menyelesaikan pemugaran Benteng Portugis São João Baptista de Ternate atau Benteng Kastela pada December 2025. Benteng yang dibangun sejak 1522 itu sebelumnya berada dalam kondisi rapuh dan terancam roboh akibat usia serta minim perawatan.
Kepala BPK Wilayah XXI Maluku Utara, Winarto, mengatakan pemugaran Benteng Kastela merupakan bagian dari upaya pelestarian cagar budaya sekaligus pengembangan potensi wisata sejarah di Maluku Utara.
“Pekerjaan konstruksi pemugaran sebenarnya sudah selesai. Namun ke depan masih ada rencana pengembangan di dalam kawasan, terutama untuk ruang yang bukan cagar budaya,” kata Winarto saat ditemui, Lingkar.co.id, di ruang kerjanya Rabu (28/1/2026).
Menurut dia, ruang non-cagar tersebut direncanakan akan dimanfaatkan sebagai museum portabel. Konsep museum ini dirancang fleksibel agar dapat digunakan di kawasan Benteng Kastela maupun keperluan pameran dan publikasi.
“Isinya nanti bisa bermacam-macam, termasuk informasi tentang Sultan Baabullah, Sultan Khairun, serta sejarah Benteng Kastela. Konsepnya portable,” ujar Winarto.
Baca Juga : Beri Kuliah Umum Prof Liontine E. Visser Ajak Anak Muda Jaga Budaya
Pemugaran Benteng Kastela sebelumnya direncanakan dimulai pada Oktober 2025. Proyek ini bertujuan melestarikan cagar budaya peninggalan kolonial yang kondisinya semakin memprihatinkan dan terancam roboh. Selain itu, pemugaran ini juga menjadi bagian dari strategi mendorong pengelolaan potensi wisata sejarah di Maluku Utara.
Winarto menyebut anggaran yang disiapkan untuk pemugaran Benteng Kastela mencapai sekitar Rp1,2 miliar. Anggaran tersebut mencakup pekerjaan konstruksi, perencanaan, pengawasan, serta pengelolaan kegiatan di lapangan. Adapun bagian yang dipugar meliputi menara benteng dan sisa dinding benteng yang masih berdiri.
“Kalau total anggaran memang sekitar satu miliar lebih. Itu sudah termasuk biaya konstruksi, perencanaan, pengawasan, dan pengendalian pelaksanaan kegiatan,” katanya.
Ia menambahkan, hingga kini belum ada kepastian terkait peresmian Benteng Kastela pasca pemugaran. Menurut dia, peresmian bisa saja dilakukan secara simbolis atau kawasan benteng dibuka langsung untuk publik tanpa seremoni khusus.
“Yang penting masyarakat sudah bisa melihat dan menikmati sisa-sisa sejarah masa lalu, peristiwa-peristiwa penting yang menjadi memori kolektif kita dan membentuk identitas hari ini,” ujar Winarto.
Winarto bilang, benteng Kastela tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Maluku Utara sebagai wilayah penghasil rempah-rempah yang menarik kedatangan bangsa asing. Keinginan bangsa Eropa untuk berdagang, bahkan memonopoli rempah-rempah, kerap memicu konflik dengan penguasa lokal.
Baca Juga : Hari Kelima Pencarian Dosen Unkhair Masuki Fase Krusial, Tim SAR Hadapi Kendala Cuaca
“Para sultan pada masa itu tidak menyetujui monopoli. Mereka membiarkan masyarakat bebas menjual hasil rempah ke mana saja. Dari situ kemudian muncul konflik dan perlawanan.”
Ia menilai narasi sejarah tersebut penting untuk terus disampaikan kepada publik, tidak hanya melalui bangunan cagar budaya, tetapi juga melalui nilai-nilai budaya yang tumbuh di masyarakat.
Ia berharap masyarakat Kota Ternate dan Maluku Utara secara umum ikut menjaga, melestarikan, dan melindungi Benteng Kastela sebagai warisan sejarah. Menurutnya, sisa-sisa benteng dan peninggalan masa lalu merupakan bukti kejayaan peradaban yang menjadi tonggak pembentukan identitas masyarakat saat ini.
“Ini seperti peristiwa proklamasi bagi bangsa Indonesia. Dari sejarah itulah kita belajar bahwa kita pernah berjaya, kaya akan rempah-rempah dan budaya. Tantangannya sekarang, bagaimana kita memanfaatkan kekayaan budaya dan sejarah itu di masa kini,” pungkasnya.












