Opini  

Perempuan di Era Modern dan Perjuangan Kesetaraan yang Belum Usai

Penulis : M Rijwal Pina 

Lingkar.co.id—Perempuan di era modern sering digambarkan sebagai simbol kemajuan zaman. Mereka hadir di ruang-ruang yang dahulu tertutup ruang pendidikan tinggi, politik, ekonomi, teknologi, hingga kepemimpinan global.

Namun di balik capaian tersebut, tersimpan realitas yang lebih kompleks. Emansipasi yang digaungkan sejak abad lalu belum sepenuhnya menjelma menjadi kesetaraan yang substantif.

Baca Juga : Pilkada via DPRD Dalam Perspektif Robert Klitgaard 

Perempuan hari ini memang memiliki lebih banyak pilihan, tetapi pada saat yang sama juga menghadapi tekanan sosial yang kian berlapis.

Dalam tulisan ini saya mencoba menelisik menulis perempuan dari perspektif modern, namun kerap terjebak dalam dua problem mendasar, yakin glorifikasi tanpa kritik atau pesimisme tanpa solusi.

Karena itu, saya mencoba melihat posisi perempuan secara lebih jernih, mengakui kemajuan yang telah diraih sekaligus menyoroti tantangan struktural, kultural, dan psikologis yang masih membayangi.

Jejak sejarah dan akar emansipasi perjuangan perempuan bukanlah cerita baru. Di Indonesia, kita mengingat nama dari RA Kartini sering disebut sebagai simbol kebangkitan kesadaran perempuan akan hak pendidikan dan kebebasan berpikir.

Gagasan tentang kesetaraan yang disuarakan menjadi pondasi penting bagi perubahan sosial di kemudian hari. Sejak saat itu, perempuan secara perlahan memasuki ruang publik dan memperjuangkan hak-haknya.

Baca Juga : Minimnya Informasi Ancaman Pertambangan di Pulau Mangoli

Namun sejarah menunjukkan bahwa emansipasi bukan sekadar membuka pintu, melainkan memastikan bahwa perempuan benar-benar dapat berjalan masuk tanpa hambatan struktural.

Pendidikan yang terbuka bagi perempuan tidak otomatis menghapus diskriminasi di dunia kerja. Hak politik tidak serta-merta menghilangkan bias gender dalam pengambilan keputusan.

Saya berkesimpulan perempuan tidak lagi sekadar subjek perubahan, tetapi mereka adalah aktor utama dalam membentuk masa depan. Bagi saya masa depan yang adil hanya mungkin terwujud ketika kesetaraan bukan lagi slogan, melainkan kenyataan yang dirasakan dalam setiap aspek kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *